Apa Saja yang Dilakukan Awak Persma Ketika Bulan Ramadan Tiba?

Bulan puasa memang bulan untuk menata hati, mencari pahala sebesar- besarnya. Jadi untuk reportase istirahat dulu lah.

5
501
Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI)

Sebelum memulai wacana yang lebih serius, saya ingin bertanya kepada kalian semua wahai pembaca setia Persma.org. Sebagai ruang berliterasi untuk intelektual revolusioner dan calon cendekiawan muda yang mempunyai niat untuk merubah bangsa.  Apa yang kalian perbuat di bulan yang penuh berkah ini? Membaca buku? Menulis? Aksi? Atau kencan sama mantan? Eh maksudnya pacar.

Kalau nak- kanak Persma mah saya kurang yakin kalau ada yang intens membaca dan menulis, boro-boro suruh menulis, diajak nongkrong dan diskusi saja sulitnya minta ampiyun. Ini gejala- gejala yang muncul di tubuh mahasiswa sekarang. Jika anak Persma sudah malas untuk menulis, bagaimana dengan mahasiswa yang lain.  Door, baiknya kalian tidur saja dan menikmati hari- hari dengan berdiam diri.

Sekilas melihat aktivitas awak Persma pada bulan yang suci, saya mencoba menggambarkan situasi dan kondisi yang saya tahu dari rekan-rekan yang setia berada di Persma dan intelejen Doraemon dan koleganya. Info yang terkumpul ini cukup valid. Kalian pengen tahu kan? Sudah siap membacanya? Sebaiknya kalian gak usah membacanya, kalian bisa sakit dan muntah- muntah.  Saya kasi tahu saja kalian apa adanya, uusssttt!!!.  Jangan bilang ke anak Persma ya, saya takut digebuki, oke, cekhimbrot!!!

Pertama, menurut info yang saya dapat, ternyata pada bulan puasa, banyak anak Persma jarang  liputan, alasanya masih klasik, ada yang merasa fisik gak mendukung, malas, kezel, sampai bilang bingung harus cari isu apa.  Pokoknya macam-macamlah, kalian bisa tambahkan sendiri alasanya. Hal itu bisa kalian tegok saja di media daring Persma ataupun media cetak, coba analisis berapa liputan yang terbit saat bulan puasa? Sedikit bukan, bahkan ada yang gak terbit karena anggotanya semua mudik. Bulan puasa memang bulan untuk menata hati, mencari pahala sebesar- besarnya. Jadi untuk reportase istirahat dulu lah.

Padahal isu yang menarik diulas sangat banyak, seperti harga bahan pokok yang melambung tinggi, sembako dan daging meroket. Dalam situs http://www.kemendag.go.id/ tercatat harga Beras Medium perkilonya Rp 10.590, Gula Pasir Rp 15.810, Minyak Goreng Curah Rp 11.570, Daging Sapi Rp 115.000, Daging Ayam Broiler Rp 32.400, Telur Ayam Ras Rp 24.490, Cabe Merah Keriting Rp 31.400, Cabe Merah Biasa Rp 31.990, Bawang Merah Rp 37.540, dll.

Lain lagi dengan kasus kekerasan terhadap Perempuan, catatan Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat dalam Lembar Fakta Catatan Tahunan 2016, Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan tahun 2015 sebesar 321.752 kasus.

Tapi apa yang dilakukan awak Persma coba? Kebanyakan memilih untuk menjadi penonton, tidak mau melakukan reportase dan cuek sembari berharap ada tulisan baru muncul dari situs yang dibacanya. Duh anak Persma sukanya menunnggu ya, kapan eksekusinya bung, nona? Bukankah salah satu isu di atas menarik untuk ditulis. Jadi kalau ada yang bilang gak ada isu menarik, kalian cari data yang benar ya, somplak banget!!! Ngoook!!!

Kedua, ini yang menjadi wajibulgunnah, bagi sebagian awak Persma, kalau gak dilakukan kayakanya berdosa sekaligus bersalah banget deh, dari turun-temurun pasti ada, konsisten banget pokoknya kalau melakukan. Apa itu, hayo tebak? Yap betul,  buka bersama (Bukber). Biasanya ativitas ini gak mau dilewatkan, kenapa? Karena momentum Bukber adalah jalan menuju penguatan lembaga. Wajar saja, yang datang tak hanya pengurus dan anggota. Awak yang sudah keluar dan dipecat dari Persma juga ikut nimbrung, tak kalah sengitnya, alumni juga nimbrung,  makin ramai makin asik,  jadi tambah akrab dan bahkan sebagian dari mereka yang sudah keluar memlih masuk kembali ke dalam struktur Persma. Kekuatan bukber sangat luar biasa untuk menatap masa yang cerah serta mebangun jalinan kasih sayang yang baru di tubuh persma. Maka tak heran jika banyak awak Persma mewajibakan buka bersama, kalau gak ada buka bersama, rasanya bagaimana githoh. Tapi kalau anak Persma yang gak mengadakan Bukber bagaimana? Pikirkan sendiri saja, jangan manja dan malas berfikir.

Nah, kalau yang ketiga, ini  lebih serius dan sangat setia dengan idealismenya dengan semangat revelosioner, progresifnya, anak ini akan melakukan kajian dan upaya propaganda ideologis kepada masyarakat. Dengan melakukan pembelaan terhadap rakyat yang tertindas. Perjuangan untuk rakyat, karena berjuang adalah senjata. Prinsip itulah yang ditegakkan. Sehingga bulan puasa bukan menjadi alasan untuk tidak melakukan agitasi dan mengkontruksi wacana publik.

Seperti yang dilakukan Taufik CS yang mencoba melakukan “pengemboman” eits!!!, tunggu dulu, pengeboman disini bukan pakai senjata dan bahan peledak lho ya, tapi menggunakan selembaran kertas bermuatan nilai-nilai edukasi yang ditempel-tempel di jalan-jalan dan kampus untuk menyebarluarkan misi intelektualitas dan mewujudkan kepekaan sosial masyarakat. Baginya puasa bukan menjadi halangan untuk tidak bergerak, walaupun lemas secara fisik, namun secara pikiran dan inteletualitas tetap kuat. Kita harus mendukungnya dengan mengacungkan tangan kiri kedepan, Hajar bung Taufik! Sikat yang menghalangi gerakanmu! Pukul mundur! Semprot dengan wacana dan tulisan!  Lho, lho, kok malah teriak-teriak!

Terakhir, ini yang paling ndangkel, paling menyek, pokoke paling top diantara paling-paling lainnya. Karena saya juga pernah mengalaminya dan pernah berada dalam satu lingkaran. Bulan puasa saya tidak ingin menutup mata, sebuah subjektifita diri mengatakan  jika awak Persma yang Muslim banyak yang gak puasa, kok bisa? Kenyataanya memang begitu. Kalau gak percaya survei saja satu persatu Lembaga Persma dari Sabang sampai Merauke. Kalau saya sih pernah survei, tidur dari sekretariat satu ke sekretariat lain. Tahu juga rasanya bergaul dengan nak-kanak Persma yang keren abis. Kebiasaan begadang  nonton bola, eh jangan nonton bola deh, biar agak keren dikit, yang ada muatan ideologisnya biar macak keren. Yowes diganti, Begadang karena membaca buku Das Kapital, diskusi Kapitalisme, Sosialisme, dan Femenisme sampai metek!!! Tidur saat matahari terbit dan bangun siang/sore hari.  Apa yang pertama dilakukan? Bukan lagi membaca buku atau menulis hasil diksusi,  tapi mencari air putih, menghisap rokok, kemudian buat kopi,  kadang juga ngajak cari warung makan. Lho gak puasa berarti? Iya emang gak pada niat puasa. #koplaktenan.

Nah, itulah sekilas aktivitas yang dilakukan awak Persma disaat bulan Ramadan, semoga menjadi pembelajaran bagi kalian yang ingin bergabung ke Persma.  Bagi yang sudah bergabung dan  mengalami hal yang demikian, segeralah berbenah, kalau gak bisa, ya teruskan saja gak apa, yang penting kalian bahagia. Sebab kebahagian itu sulit didapat. Kalau yang sudah bergabung dan tidak pernah merasakan sisi gelap awak Persma, cobalah melakukan reportase mendalam, dan kirim ke situs Persma.org, Pindai.org, Islambergerak.com, Indoprogress.com atau media online yang lainya. Kalau gak dimuat ya muat di blog pribadi saja. Kalau gak bisa dimuat juga. Kalian bobok manis, tarik selimut dan jangan lupa baca Doa.